Pemberontakan WhatsApp Pada Facebook

Perusahaan WhatsApp memang sudah cukup lama berada di bawah naungan Facebook. Namun sepertinya layanan messaging terbesar di dunia itu sukar dijinakkan. Dari pendirinya, sampai pegawainya.

Kedua pendiri WhatsApp, Brian Acton dan Jan Koum, sudah pergi dari perusahaan. Brian meninggalkan Facebook pada akhir 2017 dan semenjak itu kerap berkata miring soal Facebook.

Sesaat setelah pergi, ia menggaungkan ‘delete Facebook’ melalui Twitter. Kemudian Acton buka-bukaan bahwa ia kecewa Facebook ingin memasang iklan di WhatsApp dengan metode yang tak disetujuinya. Campur tangan Facebook mungkin sudah terlalu jauh.

Pada pertengahan tahun 2018, Jan Koum juga memutuskan mundur dari WhatsApp. Meskipun tak menyebut alasannya, banyak dugaan ia berpikiran sama dengan Acton.

Setelah ditinggalkan para pendiri itu, WhatsApp benar-benar ‘diurus’ oleh Facebook selaku induk perusahaan. Karyawan Whatsapp bekerja dengan ruang dan fasilitas yang sama dengan karyawan Facebook, namun kabarnya kerap terjadi gesekan antara keduanya.

Pertengahan tahun silam, sebagian pegawai WhatsApp dilaporkan terganggu dengan restoran dan toko yang mengelilingi kantor baru mereka di kantor pusat Facebook. Wall Street Journal pun melaporkan karyawan Facebook juga merasa terusik ketika karyawan WhatsApp meminta kamar mandi lebih bagus dengan pintu yang besar.

Karyawan WhatsApp disebut pula meminta agar meja di kantor lamanya dibawa, yang mana ukurannya lebih besar dari ukuran standar di Facebook. Budaya karyawan dari kedua perusahaan ini memang jelas berbeda.

Perbedaan tersebut tercermin ketika tim WhatsApp memasang poster di lorong gedung yang bertuliskan ‘Mohon kurangi kebisingan seminimal mungkin’. Karyawan Facebook lantas membalas dengan nyanyian berlirik “Welcome to WhatsApp – Shut up!”.

Kemudian awal tahun ini, karyawan WhatsApp protes terhadap rencana merger dengan Facebook dan Instagram yang dicetuskan Mark Zuckerberg. “Lusinan pegawai WhatsApp melawan Zuckerberg soal rencana integrasi dalam pesan internal dan dalam meeting yang dilakukan pada bulan Desember,” sebut New York Times.

Ketika membeli WhatsApp, Zuck pernah menjanjikan akan tetap jadi perusahaan independen. Tapi sumber terkait yang dikutip New York Times menyebutkan Zuck berubah pikiran sejak jumlah pemakai WhatsApp dan juga Instagram tak terbendung.

Dia meyakini mengintegrasikan kedua layanan dengan Facebook dalam jangka panjang akan lebih bermanfaat. Mungkin, perubahan janji Zuck itulah yang membuat banyak pihak di WhatsApp meradang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *